DAARUL ABROR PUTRA

ASRAMA BABEL

INFO PENDAFTARAN.!
DAARUL ABROR PUTRA

ASRAMA BAGHDAD

INFO PENDAFTARAN.!
DAARUL ABROR PUTRA

TAMAN BACA SANTRI

INFO PENDAFTARAN.!
DAARUL ABROR PUTRA

PEMILIHAN KETUA OPPMDA

INFO PENDAFTARAN.!
DAARUL ABROR PUTRA

KANTOR ADMINISTRASI

INFO PENDAFTARAN.!
DAARUL ABROR PUTRA

KELAS PUTRA

INFO PENDAFTARAN.!
DAARUL ABROR PUTRI

KANTOR ADMISISTRASI PUTRI

INFO PENDAFTARAN.!
DAARUL ABROR PUTRI

ASRAMA AISYAH

INFO PENDAFTARAN!
DAARUL ABROR PUTRI

ASRAMA FATHIMAH

INFO PENDAFTARAN
DAARUL ABROR PUTRI

ASRAMA AISYAH

INFO PENDAFTARAN!
DAARUL ABROR PUTRA

DAAARUL ABROR OLYMPIADE

INFO PENDAFTARAN
DAARUL ABROR PUTRI

GEDUNG MADINAH

INFO PENDAFTARAN!
DAARUL ABROR PUTRI

RUANG KELAS PUTRI

INFO PENDAFTARAN
DAARUL ABROR PUTRI

TAMAN BACA

INFO PENDAFTARAN!
DAARUL ABROR PUTRA

AULA MASJID

INFO PENDAFTARAN

OUR LATES POST

PONDOK MODERN BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN
Anatomi Ponpes Jalan di Tempat | Telaah Kritis

ANATOMI PONPES JALAN DI TEMPAT

Telaah Kritis 9 Faktor Penghambat Kemajuan

Ikhwan Hadiyyin 4 Juni 2026 Darel Azhar

MUQADDIMAH

Lembaga pendidikan dan pesantren yang maju tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan, luasnya lahan, atau banyaknya santri dan siswa. Kemajuan sejati lahir dari kualitas kepemimpinan, sumber daya manusia, sistem yang baik, budaya organisasi yang sehat, serta dukungan orang tua, masyarakat, alumni dan wakaf produktif.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

— QS. Ar-Ra'd: 11

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan dan kemajuan harus diawali dengan kesadaran untuk memperbaiki diri, memperbaiki sistem, dan memperbaiki budaya kerja. Berikut sembilan faktor yang sering menjadi penyebab lembaga pendidikan dan pesantren kurang berkembang atau jalan di tempat.

9 Faktor Penghambat Kemajuan

1

Kepemimpinan yang Tidak Visioner

Pimpinan lembaga yang tidak memiliki visi, cita-cita besar, dan arah yang jelas akan membuat lembaga berjalan di tempat. Pemimpin yang hanya mempertahankan keadaan yang dianggap "aman dan nyaman" tanpa inovasi akan sulit membawa lembaganya menuju kemajuan.

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

— HR. Bukhari dan Muslim

Karena itu, pemimpin pesantren dan lembaga pendidikan harus memiliki pandangan jauh ke depan, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan menggerakkan seluruh potensi lembaga. Pemimpin suatu kaum adalah yang mengelola kehidupan bangsa itu secara totalitas.

2

Guru dan Asatidz yang Berhenti Belajar

Guru dan Asatidz adalah ruh pendidikan. Ketika mereka merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki, enggan meningkatkan kompetensi, dan tidak mengikuti perkembangan zaman, maka kualitas pendidikan akan stagnan. Padahal saat ini perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), justru memudahkan proses belajar dan pengembangan diri.

"Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"

— QS. Az-Zumar: 9

Guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang terus berkembang. Maka dari itu para guru harus dipacu untuk terus belajar. Guru yang tidak mau belajar - maka berhentilah mengajar.

3

Budaya Kerja yang Tidak Sehat

Saling menyalahkan, iri hati, konflik internal, serta lemahnya kerja sama akan menguras dan menggerus energi lembaga. Sebaliknya, budaya ukhuwah Islamiyah, kolaborasi, dan saling menghargai akan melahirkan kekuatan besar untuk kemajuan bersama.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa."

— QS. Al-Maidah: 2

Seluruh stakeholder pendidikan harus kompak, bersatu padu, dan mengedepankan kepentingan lembaga di atas kepentingan pribadi maupun kelompok dan keluarga.

4

Kurangnya Keterlibatan Wali Santri dan Masyarakat

Pesantren dan lembaga pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Dukungan orang tua, wali santri, alumni, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan dan keberlanjutan lembaga. Wali santri hendaknya aktif mendukung proses pendidikan dan pembinaan karakter anak-anak mereka, namun tidak sampai melakukan intervensi yang mengganggu sistem pendidikan yang telah dirancang oleh lembaga.

Pendidikan yang berhasil adalah hasil sinergi antara rumah, sekolah, pesantren, dan masyarakat.

5

Terlalu Fokus pada Aspek Akademik

Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai ujian dan angka kelulusan. Pendidikan karakter, akhlak, kepemimpinan, kemandirian, disiplin, dan keterampilan hidup juga harus menjadi perhatian utama. Tujuan pendidikan Islam bukan hanya mencetak manusia cerdas, tetapi juga mencetak manusia yang beriman, berakhlak mulia, bertakwa dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

— HR. Ahmad

6

Tidak Adaptif terhadap Perubahan

Dunia terus berubah. Teknologi berkembang pesat, tantangan pendidikan semakin kompleks, dan kebutuhan masyarakat terus bergeser. Lembaga yang menolak perubahan akan tertinggal dari lembaga lain yang lebih inovatif.

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

"Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik."

Inilah prinsip yang harus dipegang dalam pengembangan lembaga pendidikan dan pesantren. Bahkan pesantren Gontor mengaplikasikan: "Almuhafadhoh alal qiam wat taghyir ilal kamal" (Menjaga nilai-nilai yang positif menuju perubahan yang sempurna).

7

Kurangnya SWOT Analisis, Evaluasi dan Muhasabah

Lembaga yang tidak pernah melakukan evaluasi akan sulit mengetahui kelemahan dan kekurangannya. Muhasabah, evaluasi berkala, dan keterbukaan terhadap kritik merupakan kunci perbaikan berkelanjutan. Evaluasi internal mingguan, rapat koordinasi, dan liqo syahriy bersama keluarga sangat penting untuk terus dilakukan agar seluruh program dapat berjalan sesuai tujuan.

Sayyidina Umar bin Khattab RA berpesan:
"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab."

Budaya evaluasi merupakan salah satu ciri organisasi yang sehat.

8

Alumni yang Kurang Berkualitas & Kurang Peduli

Alumni adalah cermin keberhasilan sebuah lembaga. Jika alumninya berkualitas, berakhlak mulia, sukses di masyarakat, dan memiliki loyalitas kepada almamater, maka nama baik lembaga akan semakin harum. Sebaliknya, alumni yang kurang berkualitas serta tidak memiliki kepedulian terhadap almamater akan menghambat perkembangan lembaga dalam jangka panjang.

Karena itu, proses kaderisasi harus menjadi perhatian utama. Sebab sejatinya kualitas sebuah lembaga akan terlihat dari kualitas para alumninya.

9

Khizanatullah & Wakaf Produktif yang Belum Berkembang

Banyak lembaga pendidikan dan pesantren memiliki visi besar, namun terhambat oleh keterbatasan pendanaan. Padahal Rasulullah SAW telah mengajarkan pentingnya amal jariyah yang berkelanjutan.

"Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."

— HR. Muslim

Oleh karena itu, lembaga perlu membangun kemandirian ekonomi melalui wakaf produktif, unit-unit usaha, kemitraan strategis, jaringan alumni, dan partisipasi masyarakat agar tidak bergantung pada satu sumber pendanaan saja. Pesantren yang kuat secara ekonomi akan lebih leluasa menjalankan misi pendidikan dan dakwahnya.

IHTITAM

Kemajuan lembaga pendidikan dan pesantren sesungguhnya merupakan hasil sinergi antara pemimpin yang visioner, guru yang terus belajar, santri yang berprestasi, alumni yang berkualitas, sistem yang kuat, serta dukungan masyarakat yang luas. Kemajuan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang, kesabaran, pengorbanan, kaderisasi, dan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai perjuangan.

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ

"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin."

— QS. At-Taubah: 105

Bangunan yang megah dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi lembaga pendidikan dan pesantren yang besar hanya dapat dibangun oleh visi yang besar, kader yang berkualitas, budaya yang kuat, sistem yang sehat, serta perjuangan yang panjang dan berkesinambungan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Ikhwan Hadiyyin

Bilik - Darel Azhar

4 Juni 2026

© 2026 - Anatomi Ponpes Jalan di Tempat

Telaah Kritis untuk Kemajuan Pendidikan Islam

Editor;Al-Ust. Imam Syubani, MPd.
Idul Adha Pondok Modern Darul Abror
📅 Rabu, 27 Mei 2026 | Kegiatan Santri: Mulai Puasa Arofah 9 Zulhijjah

RANGKAIAN KEGIATAN SANTRI PADA PERAYAAN'IDUL ADHA DI PONDOK MODERN DAARUL ABROR BANGKA

BANGKA, 27 Mei 2026 –

Kaos
Kayu
Daur
Catering
Kue

Pagi itu, langit terlihat mendung dengan hawa yang sejuk dan syahdu menyelimuti lingkungan Pondok Modern Darul Abror, Bangka. Di tengah suasana damai nan berkah tersebut, sebanyak 1.200 santri putra-putri, para orang tua wali santri, serta seluruh pengajar dan karyawan berkumpul khusyuk di lapangan samping Masjid Ar-Raudhoh. Semuanya hadir dengan hati gembira untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah. Sebagai bentuk kesucian hari raya, sejak pagi hari para santri juga telah melaksanakan ibadah puasa Arofah bertepatan dengan tanggal 9 Zulhijjah.

Shalat Id dipimpin langsung oleh Ustaz Jafar Shodiq, S.Th.I, sementara tanggung jawab menyampaikan khutbah dipercayakan kepada Ustaz H. Jumari Ismanto, M.Ag. Dalam pidatonya yang menyentuh hati, Ustaz Jumari menyoroti makna mendalam di balik ibadah haji dan kurban, yang beliau sebut sebagai "Madrasah Agung" — sekolah kehidupan yang mengajarkan hakikat pendidikan Islam yang sesungguhnya.

"Kalau kita renungkan lebih dalam, rangkaian ibadah haji dan kurban itu ibarat kurikulum pendidikan karakter yang paling sempurna. Di dalamnya ada teladan nyata bagaimana ekosistem pendidikan yang ideal itu seharusnya dibangun."
— Ust. H. Jumari Ismanto, M.Ag

Beliau memaparkan bahwa dalam kisah pengorbanan ini, terdapat tiga peran utama yang harus dijadikan panutan dalam dunia pendidikan:

  • Nabi Ibrahim AS sebagai sosok pendidik atau guru yang penuh keikhlasan, keteguhan hati, dan kedekatan emosional.
  • Nabi Ismail AS sebagai sosok murid yang patuh, tunduk, dan memiliki sikap sam’an wa tha’atan (mendengar dan taat) tanpa banyak tanya.
  • Pondok Pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang harus terus hadir seperti "ibu pengasuh", tempat membentuk karakter santri agar tumbuh jauh dari krisis adab, perundungan, maupun sikap komersialisasi pendidikan yang marak terjadi di luar sana.

Khatib juga mengingatkan kembali prinsip dasar yang sudah menjadi pedoman hidup di pondok ini: "Segala sesuatu yang ada di pondok ini tidak ada yang bebas nilai. Semuanya, sekecil apa pun, mengandung nilai pendidikan." Para santri pun diajak untuk lebih peka dan menghargai setiap fasilitas serta kenyamanan yang mereka nikmati, yang lahir dari pengorbanan tukang bangunan, pengrajin mebel, ibu dapur, hingga doa orang tua di rumah.

🤝 MOMENTUM UNTUK TERUS BERBENAH

Usai shalat dan khutbah, Pimpinan Pondok Modern Darul Abror, Ustaz KH. Sofyan Abu Yamin, menyambut baik dan sangat mengapresiasi isi khutbah yang disampaikan. Menurut beliau, pesan yang disampaikan sangat relevan dan menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk terus berjuang memperbaiki kualitas diri.

"Momen Idul Adha ini harus menjadi titik tolak kita untuk terus memperbaiki diri. Tugas kita adalah meneruskan estafet perjuangan dan kebaikan yang sudah dirintis oleh para pendiri pondok ini, dengan jisman, ruhan, wa maalan (jiwa, raga, dan harta)."
— Ust. KH. Sofyan Abu Yamin

Acara pun berlanjut dengan momen hangat salam-salaman antara para ustadz, karyawan, dan seluruh santri. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental, seolah menghapus jarak antara pengajar dan anak didik dalam kebahagiaan hari raya. Rangkaian acara pagi itu ditutup dengan kegiatan ramah tamah di kediaman pimpinan pondok.

🐑 KURBAN DAN KUNJUNGAN WALISANTRI

Di waktu yang bersamaan, berlangsung pula prosesi pemotongan hewan kurban yang dilaksanakan dengan tertib dan penuh ketelitian. Lingkungan pondok pun tampak ramai dikunjungi oleh para wali santri yang datang dari berbagai daerah. Mengingat kondisi lokasi kampus yang tidak terlalu luas serta akses jalan menuju pondok yang cukup sempit, kunjungan wali santri diagendakan berlangsung selama dua hari secara bergantian. Hal ini dilakukan agar suasana tetap aman, nyaman, dan tidak menimbulkan penumpukan kendaraan.

✨ KREATIVITAS SANTRI: HIAS KAMAR DAN KOMPETISI NYATE

Keseruan dan kreativitas santri semakin terlihat jelas saat sore menjelang malam. Para santri terlihat sibuk dan antusias menghias kamar masing-masing. Kasur-kasur ditata rapi menyerupai sofa empuk, dipadukan dengan beraneka ragam hiasan lampu berwarna-warni yang membuat suasana asrama jadi ceria, unik, dan penuh semangat kekompakan.

Puncak keseruan terjadi selepas shalat Isya. Tiap kamar mengadakan acara "Nyate" — kegiatan membakar dan menyajikan daging kurban — yang didampingi langsung oleh musyrif atau pembimbing masing-masing kamar. Daging yang sudah matang sempurna kemudiaan disajikan di atas meja panjang yang tertata rapi dan indah, siap untuk dinilai oleh dewan juri.

Penyerahan hidangan dibatasi hingga pukul 21.00 WIB, mengingat waktu sudah mendekati jam istirahat santri. Sesi penilaian baru akan dimulai setelah semua peserta selesai menyerahkan kreasi hidangan mereka masing-masing.

🏆 PARA PEMENANG 🏆
JUARA 1 Anggota Kamar Baghdad 3
JUARA 2 Anggota Kamar Baghdad 8
JUARA 3 Anggota Kamar Palestin 3

Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri, mengingat mereka mayoritasnya adalah anak-anak baru yang baru saja merasakan kebersamaan dan suasana hari raya pertamanya di lingkungan pondok. Semangat dan kreativitas mereka menjadi bukti nyata bahwa pendidikan karakter dan kebersamaan di Pondok Modern Darul Abror terus berjalan dan menghasilkan buah yang manis.

DILEMA DI BALIK PEMULANGAN 17 SANTRI

Pondok Modern Daarul Abror

Tinta Merah, Mengiringi Langkah 17 Santri Yang Dirumahkan

BANGKA – Belakangan ini, lingkungan pendidikan Pondok Modern Daarul Abror (PMDA) menjadi sorotan menyusul permasalahan yang melibatkan jajaran pengurus Organisasi Pondok Modern Daarul Abror (OPPMDA)priode 2026-2027.

Peristiwa ini memicu perhatian luas, hingga mencapai perhatian di tingkat pusat, karena menyangkut esensi pendidikan, kedisiplinan, dan tanggung jawab amanah di lingkungan pesantren. Berbagai pihak sepakat meminta kejelasan dan sikap tegas agar aturan dan nilai pendidikan tetap terjaga.

Melalui proses panjang pendekatan, komunikasi intensif dengan seluruh elemen, serta pertimbangan mendalam terhadap kondisi lingkungan yang masih memerlukan pemulihan pasca gejolak yang sempat menjadi pembicaraan publik, pimpinan pondok akhirnya mengambil keputusan strategis dan bijak.

📌 KEPUTUSAN PENTING:
Demi kebaikan bersama, pemulihan suasana, dan proses perbaikan diri yang lebih tenang, disepakati bahwa para santri yang terlibat dalam peristiwa tersebut dikembalikan ke dalam pengasuhan orang tua masing-masing.

Langkah ini bukan sekadar keputusan administratif, melainkan bagian dari pendidikan dan tanggung jawab bersama agar semua paham bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan perbaikan karakter adalah tugas utama kita semua.

AKAR MASALAH: ANTARA HUBUNGAN, SIKAP, DAN PEMAHAMAN

Setiap peristiwa lahir dari rangkaian sebab-akibat yang saling berkaitan, dan tidak ada satu pihak pun yang bisa disalahkan sepenuhnya.

Meninjau kembali asal mula kejadian, situasi berlangsung di tengah kesibukan luar biasa yang menyita perhatian seluruh elemen pendidik. Saat itu, para guru dan asatidz sedang disibukkan dengan rangkaian kegiatan penting: proses pelepasan kader terbaik menuju perguruan tinggi, hingga membimbing santri kelas enam dalam agenda besar Market Day — sarana melatih jiwa kewirausahaan dan kemandirian.

Di tengah padatnya agenda tersebut, perhatian dan pendampingan langsung di lingkungan keseharian santri mengalami sedikit kelonggaran. Di sinilah ketegangan bermula: terindikasi adanya ketimpangan sikap. Di satu sisi ada perilaku yang meremehkan aturan dan kewibawaan, sementara di sisi lain muncul reaksi berlebihan yang melampaui koridor pendidikan.

Dinamika ini makin jelas jika melihat konteks pergantian kepengurusan. Pengurus lama yang habis masa tugasnya sedang mempersiapkan diri untuk kelulusan, jabatan diteruskan ke generasi baru kelas 5 yang masih muda, baru dilantik seumuran toge, dan sedang dalam tahap belajar.

"Kita harus jujur mengakui adanya kesenjangan antara amanah yang diterima dengan kesiapan bertindak. Mereka yang baru memegang tanggung jawab, belum sepenuhnya paham batas kewenangan dan makna kekuasaan sebagai pelayanan. Ketidaktahuan dan ketidaksempurnaan pemahaman inilah yang menjadi akar terjadinya tindakan melampaui aturan."
— Salah satu tenaga pendidik

Jelaslah bahwa masalah ini bukan soal niat buruk, melainkan soal kesiapan, kedewasaan, dan pemahaman yang belum utuh saat memegang amanah besar.

PENYESUAIAN SISTEM KEPENGURUSAN

Sebagai evaluasi menyeluruh dan langkah pencegahan, pimpinan menetapkan kebijakan besar dalam menata ulang struktur organisasi OPPMDA.

KEBIJAKAN PEMBENAHAN:
Seluruh wewenang, tugas, dan tanggung jawab pembinaan serta pengawasan santri selama 24 jam dikembalikan sepenuhnya kepada sistem pengasuhan utama yang dikelola langsung oleh para guru dan asatidz.

OPPMMDA sejatinya dibentuk sebagai wadah pendidikan karakter dan kepemimpinan, perpanjangan tangan pengasuh untuk melatih tanggung jawab. Namun pengalaman mengajarkan: menyerahkan kendali penuh kepada mereka yang masih belajar tanpa pendampingan ketat memiliki risiko. Organisasi disalahartikan sebagai kekuasaan mutlak, padahal ia sarana latihan.

"Organisasi itu ibarat senjata. Jika dipegang orang yang paham fungsinya, ia melindungi dan mendidik. Tapi jika dipegang mereka yang belum matang pemahamannya, ia justru bisa melukai. Inilah yang terjadi: sarana pendidikan disalahartikan karena belum paham batas dan tujuannya."

Langkah ini bukan menghapus peran santri, melainkan memperketat bimbingan dan mengembalikan fungsi ke jalur pendidikan yang benar.

REFLEKSI DAN PESAN BERHARGA

Peristiwa ini bukan sekadar masalah selesai, tapi cermin dan pelajaran besar. Kita diajak memahami akar dan konteks, bukan hanya melihat permukaan. Khususnya bagi santri kelas 4, diharapkan saat giliran mereka memegang amanah, sudah lebih matang dan paham makna tanggung jawab.

Pondok Modern Daarul Abror tetap berdiri tegak mencetak generasi berilmu dan berakhlak. Dari peristiwa ini, terukir tiga pelajaran emas:

  • Amanah adalah kepercayaan, bukan kekuasaan.
  • Kedisiplinan harus dibarengi kebijaksanaan dan kasih sayang.
  • Setiap tahap belajar memerlukan bimbingan dan pendampingan ekstra.

Pembenahan ini dilakukan demi masa depan yang lebih baik, agar setiap santri tumbuh dalam suasana aman, dihargai, dan dididik dengan nilai-nilai luhur pesantren.

Ngeloni Santri 24 Jam: Saat Pendidikan Tak Boleh Kehilangan Ruhnya

Flashback: "CCTV Nggak Punya Ruh"


Tahun 2007, di mata kuliah Bimbingan Konseling, dosen saya Ibu Yayah Haryawati pernah ditanya: "Bu, apakah teknologi bisa menggantikan peran guru?"

Secanggih apapun teknologi, tidak bisa menggantikan guru. Kenapa? Karena guru punya daya sentuh yang berjiwa. Dan itu nggak bisa digantikan oleh apapun.

Hadirnya guru itu ibarat cas untuk jiwa murid. Hari ini kita ribut soal kekerasan di sekolah dan pondok. Solusinya? Pasang CCTV di mana-mana. Aman iya. Tapi kita lupa ada "CCTV jiwa" yang lebih penting.

CCTV jiwa itu guru yang mampu menanamkan nilai sampai anak merasa diawasi Allah meski nggak ada orang di sekitarnya. Tapi itu nggak akan terjadi kalau nggak ada ikatan batin.

Ikatan itu dibangun dari interaksi. Kalau nggak ada momen, kita sebagai guru harus menciptakan momen. Bisa dari hal kecil: nanya "sudah makan belum?", bercanda soal kaos kaki beda warna, duduk bareng saat olahraga sore. Hal kecil, tapi membekas dan menggugah semangat.

Kenapa Guru Hari Ini Sering "Nggak Ada"?

Kalau kita tanya "kemana guru saat siswa butuh?", ada beberapa jawaban yang bisa kita amati:

  • 1. Guru disibukkan tuntutan administrasi
    Guru sekarang lebih banyak bergelut dengan RPP, silabus, laporan kinerja, aplikasi A sampai Z. Akibatnya fokus mengajar jadi pecah. Bandingkan dengan dulu yang urusan administrasi nggak sebanyak ini.
  • 2. Daya Sentuh Psikologis: Jangan Cuma Lihat Salahnya
    Remaja hari ini banyak yang terjerumus pada penyimpangan dan kekerasan. Kalau ditelusuri, akarnya sering sama: kurangnya daya sentuh guru saat mereka bermasalah.
    Yang sering terjadi: anak bermasalah, guru langsung menyalahkan. Tidak ada usaha menggali lebih dalam, "Kenapa kamu sampai begitu?" Padahal perilaku itu biasanya gejala, bukan penyakit.
    Seharusnya, apapun stigma negatif yang melekat pada anak—entah karena kasus disiplin, nakal, atau bandel—kita tetap harus mencari sisi positifnya. Apresiasi hal kecil yang dia lakukan. Terus bimbing, arahkan, jangan dibuang.
    Kenapa? Karena masa depan mereka masih panjang. Saya sering ketemu anak yang dulu bandelnya minta ampun, tapi berubah 180 derajat setelah lulus. Kenapa? Karena ada satu kalimat positif dari guru yang nyangkut di kepalanya saat dia bermasalah. Kalimat itu jadi pegangan.
    Sebaliknya, ada juga anak yang dulunya juara, nilainya tertinggi. Tapi dia berhenti berkembang karena merasa "sudah cukup". Akhirnya stagnan, kalah jauh sama teman yang dulu biasa-biasa saja tapi terus belajar dan dibimbing.
    Di sinilah guru berperan. Kehadirannya harus bisa dirasakan seluruh siswa. Bukan cuma yang pintar dan penurut. Justru yang bandel dan bermasalah itu yang paling butuh disentuh.
  • 3. Dilema UU HAM dan orang tua
    Menegur keras salah. Membentak salah. Akhirnya banyak guru memilih diam dan membiarkan anak liar daripada berurusan. Apalagi pola asuh ortu Gen Z dan Milenial banyak yang ikut standar TikTok. Standarnya belum tentu pas untuk anak 10 tahun ke depan.
  • 4. Niat dan proses jadi guru yang belum matang
    Ada kawan kuliah yang ketika ditanya "serius mau jadi guru?", jawabnya enteng: "Daripada nganggur." Ada juga yang pas kuliah tugas, skripsi, penelitian dikerjakan orang lain. Hasilnya: sarjana keguruan tapi belum menguasai how to be a teacher untuk jadi guru yang dirindukan anak.
  • 5. Lupa menjiwai peran
    Gaji tinggi nggak cukup kalau nggak ikhlas. Yang penting itu guru mau mendengar keluh kesah anak. Mau introspeksi: "Apa metode saya yang salah sampai mereka nggak paham?" Sayangnya, ini jarang dilakukan kecuali guru yang memang punya ruh mendidik.

Belajar dari Prof. Afif Muhammad

Dulu saya kuliah S2 dengan Prof. Afif Muhammad di Pascasarjana UIN Bandung. Beliau paling ontime. Jam 7 pagi pun sudah hadir 15 menit sebelumnya.

Yang menarik, beliau ngajar filsafat yang berat tapi bisa bikin ringan. Setiap selesai menjelaskan, beliau tanya: "Sudah paham semua?"
Kami jawab kompak: "Paham, Prof!"
Tapi beliau menatap kami dan bilang: "Saya tahu kalian belum paham. Dari wajah kalian saya tahu."
Lalu beliau jelaskan lagi dengan bahasa yang lebih sederhana. Dan benar, kami paham.

Momen guru seperti ini butuh jam terbang tinggi, interaksi panjang, dan ikatan batin yang terus dibangun. Nggak bisa instan.

Ciptakan Momen, Sekecil Apapun

Jadi kapan terakhir kita menemukan momen berharga dengan siswa? Kalau belum ada, ciptakan sendiri. Nggak harus besar.

Dulu saya pernah tanya santri yang pakai kaos kaki beda warna:
"Kenapa beda?"
Dia jawab sambil ketawa: "Ustadz, yang penting kan kaos kaki. Walau nuansanya beda antara Sabang dan Merauke, setidaknya dia menghangatkan kaki saya di musim hujan."

Seisi kelas pun tertawa riuh, kemudian kami melanjutkan KBM dengan ceria.

Ah sudahlah, mari kita lanjutkan. Bayangkan mereka 10 tahun lagi dengan peran yang berbeda.

Untuk guru: teruslah menebar momen berharga. Tak apa kalau hari ini nggak dihargai, tak apa kalau anak belum suka. Kita hanya meminjam diri untuk membentuk karakter mereka agar tangguh di masa depan.

Ikhlaslah dalam mendidik santrimu, apapun dia dan kondisinya. Yakinlah, suatu saat Allah akan kirimkan orang yang lebih ikhlas dari kita untuk mendidik anak dan zurriyah kita.

Amin.

Abi Alfatih
Pojok Bumang, 17 Mei 2026.11.16

Daarul Abror Olympiade 2026

DAARUL ABROR OLYMPIADE: MERIAHNYA KOMPETISI OLAHRAGA DAN SENI

📅 04 Mei 2026 | ✍️ Admin | 📁 Kegiatan Santri
Foto Utama

BANGKA – Semangat sportivitas dan persaudaraan kembali terpatri dalam ajang bergengsi Daarul Abror Olympiade yang berlangsung mulai Senin, 27 April 2026 hingga Sabtu, 02 Mei 2026. Kompetisi ini mempertemukan talenta terbaik santri dalam berbagai cabang olahraga dan seni bela diri.

Foto Kegiatan
Berpose sebelum bertanding

Tidak kurang dari lima cabang dipertandingkan, meliputi Sepak Bola, Futsal, Voli, Bulu Tangkis, serta satu cabang seni yang berunsur olahraga yaitu Tapak Suci PERSIDAR.

"Olahraga bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana kita menjaga kesehatan, kekompakan, dan sportivitas."

Kemeriahan Tapak Suci PERSIDAR

Khusus untuk cabang Tapak Suci, acara ini disuhui langsung oleh al-Ustadz Aris Baharuddin Siregar, MSI, dan al-Ustadz Deri Agustin Saputra Arsyi, SPd. Di lapangan, mereka didampingi oleh para pendekar senior yang handal antara lain Ustadz Rasya Guntama, Ustadz Afrizal Ivanza dan lainnya, yang mana mereka ini sebelumnya merupakan alumni perguruan yang siap membimbing dan mengawal jalannya pertandingan. (Red)

📋 Baca Juga

Empat regu tangguh telah bersiap dan bertanding memperebutkan gelar juara, yaitu Regu 🐯Harimau, Regu 🐸Katak, Regu 🐉Naga, dan Regu 🦅Rajawali. Mereka telah melalui proses latihan rutin yang panjang demi tampil maksimal di atas matras.

Daftar Tim dan Klub Peserta

⚽ Sepak Bola:

  • Abror United
  • Real Bangka FC
  • Forza FC
  • Academi FC

🏟️ Futsal:

  • Emirates
  • At-Taqdom
  • Warior
  • La-Magica

🏐 Voli:

  • Phoenix
  • Pegasus

🏸 Bulu Tangkis:

  • Student Star
  • Platinum
  • Amerta
  • Heroic

Puncak Acara dan Penghargaan

Seluruh rangkaian pertandingan dari berbagai cabang berakhir pada Sabtu, 02 Mei 2026. Suasana semakin memanas dan penuh haru saat memasuki sesi penutupan.

Acara ditutup secara resmi dengan prosesi penyerahan piala bergilir, medali, dan sertifikat penghargaan kepada perwakilan dari klub-klub pemenang. Senyum kebanggaan terpancar dari wajah para juara sebagai bukti kerja keras dan perjuangan mereka selama kompetisi berlangsung.

Semoga semangat kompetisi yang sehat ini terus terjaga dan menjadi motivasi bagi seluruh santri untuk terus berprestasi.

🌐 Baca Juga: Artikel 👇👇Lainnya