Ngeloni Santri 24 Jam: Saat Pendidikan Tak Boleh Kehilangan Ruhnya
Flashback: "CCTV Nggak Punya Ruh"
Tahun 2007, di mata kuliah Bimbingan Konseling, dosen saya Ibu Yayah Haryawati pernah ditanya: "Bu, apakah teknologi bisa menggantikan peran guru?"
Hadirnya guru itu ibarat cas untuk jiwa murid. Hari ini kita ribut soal kekerasan di sekolah dan pondok. Solusinya? Pasang CCTV di mana-mana. Aman iya. Tapi kita lupa ada "CCTV jiwa" yang lebih penting.
CCTV jiwa itu guru yang mampu menanamkan nilai sampai anak merasa diawasi Allah meski nggak ada orang di sekitarnya. Tapi itu nggak akan terjadi kalau nggak ada ikatan batin.
Ikatan itu dibangun dari interaksi. Kalau nggak ada momen, kita sebagai guru harus menciptakan momen. Bisa dari hal kecil: nanya "sudah makan belum?", bercanda soal kaos kaki beda warna, duduk bareng saat olahraga sore. Hal kecil, tapi membekas dan menggugah semangat.
Kenapa Guru Hari Ini Sering "Nggak Ada"?
Kalau kita tanya "kemana guru saat siswa butuh?", ada beberapa jawaban yang bisa kita amati:
- 1. Guru disibukkan tuntutan administrasi
Guru sekarang lebih banyak bergelut dengan RPP, silabus, laporan kinerja, aplikasi A sampai Z. Akibatnya fokus mengajar jadi pecah. Bandingkan dengan dulu yang urusan administrasi nggak sebanyak ini. - 2. Daya Sentuh Psikologis: Jangan Cuma Lihat Salahnya
Remaja hari ini banyak yang terjerumus pada penyimpangan dan kekerasan. Kalau ditelusuri, akarnya sering sama: kurangnya daya sentuh guru saat mereka bermasalah.
Yang sering terjadi: anak bermasalah, guru langsung menyalahkan. Tidak ada usaha menggali lebih dalam, "Kenapa kamu sampai begitu?" Padahal perilaku itu biasanya gejala, bukan penyakit.
Seharusnya, apapun stigma negatif yang melekat pada anak—entah karena kasus disiplin, nakal, atau bandel—kita tetap harus mencari sisi positifnya. Apresiasi hal kecil yang dia lakukan. Terus bimbing, arahkan, jangan dibuang.
Kenapa? Karena masa depan mereka masih panjang. Saya sering ketemu anak yang dulu bandelnya minta ampun, tapi berubah 180 derajat setelah lulus. Kenapa? Karena ada satu kalimat positif dari guru yang nyangkut di kepalanya saat dia bermasalah. Kalimat itu jadi pegangan.
Sebaliknya, ada juga anak yang dulunya juara, nilainya tertinggi. Tapi dia berhenti berkembang karena merasa "sudah cukup". Akhirnya stagnan, kalah jauh sama teman yang dulu biasa-biasa saja tapi terus belajar dan dibimbing.
Di sinilah guru berperan. Kehadirannya harus bisa dirasakan seluruh siswa. Bukan cuma yang pintar dan penurut. Justru yang bandel dan bermasalah itu yang paling butuh disentuh. - 3. Dilema UU HAM dan orang tua
Menegur keras salah. Membentak salah. Akhirnya banyak guru memilih diam dan membiarkan anak liar daripada berurusan. Apalagi pola asuh ortu Gen Z dan Milenial banyak yang ikut standar TikTok. Standarnya belum tentu pas untuk anak 10 tahun ke depan. - 4. Niat dan proses jadi guru yang belum matang
Ada kawan kuliah yang ketika ditanya "serius mau jadi guru?", jawabnya enteng: "Daripada nganggur." Ada juga yang pas kuliah tugas, skripsi, penelitian dikerjakan orang lain. Hasilnya: sarjana keguruan tapi belum menguasai how to be a teacher untuk jadi guru yang dirindukan anak. - 5. Lupa menjiwai peran
Gaji tinggi nggak cukup kalau nggak ikhlas. Yang penting itu guru mau mendengar keluh kesah anak. Mau introspeksi: "Apa metode saya yang salah sampai mereka nggak paham?" Sayangnya, ini jarang dilakukan kecuali guru yang memang punya ruh mendidik.
Belajar dari Prof. Afif Muhammad
Dulu saya kuliah S2 dengan Prof. Afif Muhammad di Pascasarjana UIN Bandung. Beliau paling ontime. Jam 7 pagi pun sudah hadir 15 menit sebelumnya.
Yang menarik, beliau ngajar filsafat yang berat tapi bisa bikin ringan. Setiap selesai menjelaskan, beliau tanya: "Sudah paham semua?"
Kami jawab kompak: "Paham, Prof!"
Tapi beliau menatap kami dan bilang: "Saya tahu kalian belum paham. Dari wajah kalian saya tahu."
Lalu beliau jelaskan lagi dengan bahasa yang lebih sederhana. Dan benar, kami paham.
Momen guru seperti ini butuh jam terbang tinggi, interaksi panjang, dan ikatan batin yang terus dibangun. Nggak bisa instan.
Ciptakan Momen, Sekecil Apapun
Jadi kapan terakhir kita menemukan momen berharga dengan siswa? Kalau belum ada, ciptakan sendiri. Nggak harus besar.
Dulu saya pernah tanya santri yang pakai kaos kaki beda warna:
"Kenapa beda?"
Dia jawab sambil ketawa: "Ustadz, yang penting kan kaos kaki. Walau nuansanya beda antara Sabang dan Merauke, setidaknya dia menghangatkan kaki saya di musim hujan."
Seisi kelas pun tertawa riuh, kemudian kami melanjutkan KBM dengan ceria.
Ah sudahlah, mari kita lanjutkan. Bayangkan mereka 10 tahun lagi dengan peran yang berbeda.
Untuk guru: teruslah menebar momen berharga. Tak apa kalau hari ini nggak dihargai, tak apa kalau anak belum suka. Kita hanya meminjam diri untuk membentuk karakter mereka agar tangguh di masa depan.
Amin.
Pojok Bumang, 17 Mei 2026.11.16
.jpeg)