PONDOK MODERN BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Silaturahim Perdana: Menyatukan Hati dan Visi Mendidik

Daarul Abror Putri • 02 Agustus 2026

"Pendidikan bukan sekadar menitipkan anak di tempat yang benar, melainkan menitipkan harapan pada jalan yang diridhoi Allah, dengan doa sebagai tiangnya dan keikhlasan sebagai pondasinya."

Pondok Modern Daarul Abror menggelar kunjungan dan silaturahim perdana yang penuh kehangatan bersama wali santri serta santriwati Kelas 1 TMI pada Ahad, 02 Agustus 2026. Pertemuan ini bukan sekadar seremonial pembukaan tahun ajaran, melainkan jembatan penghubung yang menyatukan visi antara pengelola pondok dan orang tua dalam membimbing putra-putri tercinta tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beradab mulia, dan teguh berpegang pada agama.

Pondok Wakaf yang Mengemban Amanah Umat

Dalam sambutannya, Pimpinan Pondok Modern Daarul Abror, Al Ustadz KH. Sofyan Abu Yamin, menegaskan jati diri pondok ini sebagai lembaga pendidikan wakaf yang berdiri untuk mengemban amanah seluruh umat. Beliau menyampaikan pesan yang menenangkan hati para orang tua melalui konsep "menitipkan":

"Ketika Anda menitipkan putra dan putri di sini, itu adalah bentuk ikhtiar mulia. Ikhtiar ini harus dilandasi kepercayaan yang tulus, doa yang tak terputus, dan keikhlasan penuh kepada Allah SWT yang Maha Menjaga."

Tiga Pilar Pembinaan dan Hakikat Menuntut Ilmu

Selanjutnya, Direktur TMI, Al Ustadz H. Ahmad Yani, S.Ag, membuka wawasan para hadirin mengenai arah pembinaan santriwati di pondok. Beliau mengingatkan kembali bahwa keberhasilan pendidikan dimulai dari keridhoan orang tua dan niat yang murni semata-mata karena Allah SWT.

Pembinaan karakter di Pondok Modern Daarul Abror dilandasi konsep 3S:

  • Sterilisasi: Membersihkan hati dan lingkungan dari sifat-sifat yang tidak diridhoi Allah
  • Standarisasi: Membangun kedisiplinan dan tata nilai yang kokoh sesuai syariat
  • Sertifikasi: Membuktikan kesiapan mental dan ilmu untuk diamalkan di tengah masyarakat

Beliau juga menjelaskan bahwa setiap santriwati akan dibentuk melalui tiga beban pendidikan yang saling melengkapi: beban belajar untuk menambah ilmu, beban kegiatan untuk melatih tanggung jawab, serta beban kehidupan untuk menempa kemandirian. Ketiga hal ini bukanlah penghalang, melainkan jalan yang pasti untuk membentuk karakter tangguh di masa depan.

Dua Pesan Emas yang Membekas di Hati

Barang siapa yang menuntut ilmu karena Allah, maka akan ditakuti semua. Namun barang siapa menuntut ilmu bukan karena Allah, akan takut kepada semua.

Kekurangan tidak menjadikan kita lemah, tetapi kekurangan adalah alat untuk mendidik diri kita menjadi kuat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, ketabahan, dan kemudahan kepada seluruh santri, santriwati, serta orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Pondok Modern Daarul Abror. Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk berjalan di jalan-Nya, dan menjadi generasi yang membawa berkah bagi agama, bangsa, dan keluarga.

Oleh: al-Ust.Yudi Safitrah,  M.S.I

EMPAT PILAR KEMAJUAN SEBUAH LEMBAGA

Empat Pilar Kemajuan dan Hakikat Mengajar
Sabtu, 25 Juli 2026

Empat Pilar Kemajuan dan Hakikat Mengajar:Sebuah Refleksi

"Jika ingin maju harus memiliki empat daya: daya tarik, daya tahan, daya suai, dan daya juang."

Setiap langkah menuju kemajuan senantiasa ditopang oleh empat hal utama: daya tarik, daya tahan, daya suai, dan daya juang.

Jiwa dan Makna Keberadaan Seorang Pendidik

Pembahasan diawali dengan pemaparan mengenai pentingnya menjaga ruh pengabdian sebagai fondasi utama. Ditekankan bahwa menjaga semangat dan kualitas batin berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan diri. Niat yang senantiasa diperbarui akan menjadikan setiap proses pembelajaran sebagai amal yang kebaikannya tidak terputus, meskipun di tengah padatnya rutinitas yang dijalani.

Saling mendoakan antar sesama pendidik menjadi cerminan jiwa yang baik. Peran pendidik tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga membina karakter yang menyertai peserta didik sepanjang waktu. Kekompakan antar sesama pengajar turut menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan, di mana keikhlasan meletakkan kepentingan bersama di atas ego pribadi menjadi awal terciptanya keharmonisan.

Kekuatan seorang pendidik lahir dari keseimbangan kondisi fisik dan kerohanian yang hidup. Banyaknya aktivitas belum tentu mencerminkan kualitas kerohanian, sementara doa yang tulus merupakan kekuatan yang sering tak tampak namun dampaknya sangat besar. Kualitas ibadah berkaitan erat dengan kualitas iman, dan setiap kemajuan bermula dari rasa cinta terhadap amanah yang diemban.

Ruh seorang guru lebih penting daripada gurunya; guru lebih penting daripada metode; metode lebih penting daripada materi.

Tujuan dan Langkah Pembangunan Lembaga

Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya telah ditetapkan dengan jelas sejak awal, untuk kemudian diwujudkan secara bertahap. Program jangka pendek diselaraskan guna mendukung visi jangka panjang lembaga. Hal-hal kecil yang dilaksanakan dengan benar merupakan bagian tak terpisahkan dari cita-cita besar yang ingin diraih bersama.

Kemajuan lembaga tidak diukur dari kelengkapan sarana, melainkan dari semangat para pendidik untuk terus belajar. Pemikiran yang matang melahirkan keputusan yang tepat. Semangat membangun tetap dijalankan meski fasilitas belum sepenuhnya lengkap, dengan arah menjadikan lembaga sebagai tempat lahirnya pendidik yang unggul dalam kemampuan maupun akhlak.

Pengembangan diri pendidik terus didorong, meliputi penyempurnaan niat, cara belajar, dan cara mengajar. Kehadiran hati yang tulus dalam proses pendidikan sangat dirasakan maknanya. Pendidik yang menjaga kualitas ibadah cenderung lebih mudah membimbing hati peserta didik, serta diharapkan mampu berpikir luas, berkarya nyata, dan menguasai setidaknya satu bidang keahlian secara mendalam.

Terdapat tiga gambaran pendidik yang diharapkan: memiliki kompetensi atau keahlian mumpuni, memiliki kualifikasi yang didukung berbagai kemampuan tambahan, serta memiliki komitmen dan kesetiaan terhadap amanah yang diemban.

Empat Pilar Penopang Kemajuan

Untuk mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan, terdapat empat pilar utama yang menjadi pegangan bersama:

  • Daya Tarik – Diupayakan lewat tata ruang dan lingkungan yang nyaman, peningkatan kualitas keilmuan pendidik, serta pembudayaan ibadah dan akhlak mulia.
  • Daya Tahan – Dibangun melalui pembentukan karakter yang kokoh dan tidak mudah goyah menghadapi tantangan.
  • Daya Suai – Setiap program disesuaikan dengan jati diri lembaga yang mengedepankan kemajuan dan pemikiran terbuka.
  • Daya Juang – Diisi dengan meneladani sifat Rasulullah ﷺ: jujur, dapat dipercaya, menyampaikan amanah dengan benar, serta cerdas dalam bertindak.

Arah Pengembangan dan Harapan

Berbagai upaya diarahkan untuk meningkatkan keseriusan kerja, kualitas pendidik, serta daya tarik lembaga. Program persiapan pendidikan tinggi, pusat pengembangan bakat peserta didik, dan penguatan jaringan alumni akan terus dikembangkan. Penataan sistem penugasan juga disesuaikan dengan tingkat tanggung jawab dan kemampuan masing-masing.

Hakikat mengajar adalah terus belajar. Barang siapa menuntut dan mengamalkan ilmu semata-mata karena Allah, ia akan mendapatkan kemuliaan. Sebaliknya, apabila ilmu diamalkan bukan karena-Nya, maka ia akan hidup dalam kegelisahan.

MENATA HATI, MENGASAH ILMU, MENGUKIR KETELADAN


Setiap perjalanan hidup dan tanggung jawab yang kita emban tentu menyimpan pelajaran berharga. Ada hikmah yang bisa kita renungkan bersama tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan dan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

BAGIAN PERTAMA: MENATA HATI DAN MEMBENAHI DIRI

Oleh; al-Ustadz. KH, Sofyan Abuyaamin

Seringkali kita lupa untuk berhenti sejenak, melakukan evaluasi diri, dan memperbaiki apa yang mungkin kurang. Ada nilai-nilai luhur yang bisa menjadi cahaya penuntun kita:

1. Membangun Etos Kerja dan Rasa Amanah

Bekerja dan beraktivitas bukan sekadar soal mencari nafkah, melainkan tentang bagaimana kita memaknai setiap tugas sebagai kepercayaan dan kesempatan besar.

- Hakikat Amanah: Sebuah tanggung jawab adalah ibarat janji suci. Mengabaikan atau melalaikannya bukanlah hal kecil, karena itu berarti kita tidak menjaga kepercayaan yang diberikan. Ingatlah, lawan dari kelalaian adalah ketekunan dan kesungguhan hati.

- Makna Ihsan: Ada keindahan dalam bekerja dengan sepenuh hati, ikhlas tanpa mengharap pujian. Cukup Allah SWT yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Balasan. Niatkanlah setiap keringat dan usaha sebagai bentuk ibadah yang tulus.

2. Kunci Menjadi Lebih Baik

Untuk terus tumbuh dan berkembang, ada tiga hal indah yang bisa kita pegang:

1. Meluruskan Niat: Mencari rezeki itu suci, apalagi jika dibarengi dengan rasa tanggung jawab dan amanah. Justru, kelalaian dalam tugaslah yang bisa menjadi penghalang datangnya keberkahan.

2. Kedisiplinan: Ketertiban bisa dilihat dari bagaimana kita mengatur waktu dan prioritas. Ketika kewajiban utama kepada Allah dijaga dengan baik, insya Allah urusan dunia dan pekerjaan pun akan terbentang dengan lancar.

3. Mengharap Ridho Ilahi: Jadikan keridhaan-Nya sebagai tujuan utama, melebihi sekadar pengakuan atau jabatan semata.

BAGIAN KEDUA: MENGASAH KEMAMPUAN DAN PEMAHAMAN

Oleh: al-Ustadz. KH. Ahmad Yani, SAg

Selain hati yang bersih, kita juga dituntut untuk memiliki wawasan yang luas dan kemampuan yang mumpuni dalam mengelola setiap urusan.

Tiga Bekal Utama

Agar setiap langkah membawa hasil yang maksimal, ada tiga kemampuan yang sangat berguna:

1. Pemahaman Konsep: Belajarlah untuk memahami gambaran besar dan tujuan dari apa yang kita lakukan. Jangan hanya bekerja "asal selesai", tapi pahami makna, visi, dan arah tujuannya.

2. Keahlian Teknis: Menguasai cara kerja dan metode yang benar agar setiap tugas diselesaikan dengan profesional.

3. Kemampuan Bersosialisasi: Bijak dalam berinteraksi, memahami karakter orang lain, dan mengambil keputusan yang tepat.

Cara Menyikapi Tantangan

Terkadang kita merasa jalan terasa berat karena kurangnya pemahaman akan tujuan. Oleh karena itu, ada baiknya kita selalu:

- Berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan kebenaran.

- Menggunakan pendekatan yang edukatif dan penuh kasih sayang.

- Selalu memotivasi diri dan orang lain untuk terus maju.

- Menghargai setiap proses dan kemajuan yang dicapai.

- Memiliki arahan yang jelas dalam setiap langkah.

RENUNGAN

Mari kita simak dan hayati pesan mendalam ini sebagai penyegar jiwa:

"MENGHIDUPKAN, BUKAN SEKADAR MENCARI PENGHIDUPAN."

Kehadiran kita di mana pun bukan sekadar untuk "mengisi ruang" atau hadir secara fisik semata. Tapi hadir untuk memberi manfaat, memberi warna, dan memberi pengaruh baik.

Bekerjalah bukan hanya karena perintah, tapi karena paham akan tujuan dan tanggung jawab besar di baliknya. Mari bangkit bersama, perbaiki niat, teguhkan amanah, dan perbanyak ilmu, demi kebaikan bersama dan ridho Allah SWT.


Buat Orang Tua Yang Memondokkan Anaknya

Saya buka tulisan ini dengan kabar gembira dari Allah Ta'ala, QS. Ar-Ro'd ayat 24.

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ

Dan keselamatanlah untuk Kalian sekeluarga (Surga Adn) atas kesabaran kalian waktu di dunia.

Iniliah ayat yang cocok sebagai apresiasi dan juga penyemangat bagi orang tua manapun yang memperjuangkan anaknya masuk ke pondok. Sebab salah satu modalnya adalah sabar. Sabar, sabar ketika semua harta habis berpuluh juta bahkan beratus juta untuk membiayai kehidupan dan pendidikan anak di pesantren, yang padahal dengan harta itu orang tua tersebut dapat membeli apa saja, dan investasi apa saja perihal dunia. Namun orang-orang tua yang Memondokkan anaknya memilih sabar menanam harta itu dalam pendidikan anak-anaknya demi buah dan bunga terbaik di hari yang kemudian juga secangkir kebahagian yang kelak diberikan anaknya di hadapan Allah Ta'ala kelak. 

Sabar, sabar juga ketika terus berlelah-lelah mengantar bolak-balik anaknya masuk ke luar pesantren, belum rasanya badan merebah, tiba-tiba anaknya menelepon sebab sakit, yang mau tidak mau harus segera ditengok walau badan bermandikan lelah dan keringat. Apalagi yang anaknya pernah merasa tidak kerasan dan tidak betah di pesantren. Ada masa, sabar Betul-betul diuji antara menyerah dan terus berjuang sebab jenuh hampir tiap hari mengantar putranya bolak balik pesantren dengan segala macam bujukan. 

Sabar, sabar juga tatkala ramainya rumah kini berganti sepi, sebab para penenang jiwa, penghibur lara jauh dalam dekapansedang berjuang di pesantren, Syukur yang masih ada adik atau kakaknya. Sabar akan betul kembali diuji saat anak tiga, tiga-tiganya berjuang di pesantren apa lagi anak semata wayang, kemudian rela dan sabar dilepas untuk berjuang di pondok pesantren satu-satunya anak tersebut. Dalam tiap malam air mata kadang tak mampu tertahan mengalir, merindukan putra-putri kesayangannya yang tak mampu dipeluk dan dikecup kepalanya. Syukur bagi orang tua yang pesantren putra-putrinya dekat, sepelemparan batu. Ketika rindu datang paling tidak akhir pekan pertemuan sebentar sudah begitu menenangkan jiwa. Lantas dengan orang tua yang memondokkan anaknya di luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Rindu begitu menyayat-nyayat hati di tiap keadaan seraya hanya pelukan Do'a yang dapat terucap lirih dalam lisan agar putra-putrinya yang jauh senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala.

Belum sabar-sabar yang lain, sabar dengan lamanya pendidikan, omongan orang yang begitu ragu jika anaknya dititip di pesantren, kadang harus kuat dan sabar dihadapi. Belum lagi kondisi kesehatan baik anaknya lebih-lebih kesehatannya sendiri sebab usia sudah tak bisa di bilang muda, rasanya betul-betul hanya anak yang mampu menjadi obat dan harapan tiada tara sebagai penguat keteguhan orang tua.

Wahai para orang tua yang begitu ikhlas berjuang, Engkau sudah Betul-betul mengamalkan perintah Allah Ta'ala dalam surah An-Nisa ayat 9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

 Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Memondokkan anak, adalah ikhtiar kita membangun generasi yang kuat, agar peringatan Allah itu tidak terjadi pada keturunan kita. Saat kita pergi meninggalkan dunia, Na'udzubillah kita meninggalkan generasi yang lemah, lemah iman, lemah akhlak, lemah ilmu, lemah ekonomi dan lemah lainnya. Generasi-generasi yang tak mampu menjadi Pembela buat orang tuanya, agamanya, bangsanya. Pembela di dunia lebih-lebih di akhiratnya Allah. Generasi yang lemah hanya akan menyiksa batin orang tuanya di dunia, membuat merintih orang tuanya ketika ajal datang, sebab bukan lantunan Do'a yang dihaturkan justru pertikaian atas nama perebutan harta orang tuanya yang padahal jenazahnya masih ada di hadapan anak-anak itu. Apa lagi di akhiratnya Allah, jangan membawa ke surga. Anak-anak itu akan menuntut dan menyeret orang tuanya ke nerakanya Gusti Allah. 

Namun sebaliknya, berkat kegihihan Bapak Ibu Memondokkan anak, sebagai ikhtiar menguatkan generasi maka tangis demi tangis bahagia akan mewarnai kehidupan Bapak Ibunya. Ada haru bahagia saat mereka lulus dan wisuda di pesantren yang begitu membuat hati besar dan lega. Bahagia sebab pendidikan pesantren membuat mereka menjadikan Bapak Ibunya raja dan ratu bagi mereka. Hati orang tua mana yang tak meleleh saat anaknya bersimpuh di pangkuannya seraya berdo'a di tiap waktunya demi kesehatan dan panjang umur orang tuanya. Begitupun saat kita berpulang. Masing-masing dari anak-anak yang Sholeh tersebut berjajar bersahut membaca Al-

Qur'an. Tiada Ustad yang datang memandikan dan memimpin sholat jenazah kita. Sebab mereka anak-anak yang Sholeh hadir di sana memandikan jenazah kita, memimpin sholat jenazah kita dan turun mengazani kita untuk terakhir kali. Dapat dipastikan Wahai Para Bapak dan Ibu yang Memondokkan anaknya di pesantren. Itulah hari terbaik dan paling membahagiakan untuk kita sebagai orang tua. Sebab anak-anak kita hadir jadi pembela kita. Apa lagi kelak di hadapan Allah Ta'ala. Merekalah yang akan membela kita, memperjuangkan kita di hadapan Allah Ta'ala sehingga termasuk lah kita orang-orang yang

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. 

Allah, Mudah-mudahan Allah jadikan putra-putri kita sebagai penyejuk mata hati kita di dunia lebih-lebih Akheratnya Allah Ta'ala. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah kisah. Pernah mendengar cerita dari seorang Kyai. Bahwa di surga ada sebuah majlis para Ambiya, Awliya dan Ulama serta Sholihin. Tiba-tiba obrolan santai di majlis tersebut dikagetkan dengan seorang penghuni surga yang tampak beterbangan dari satu gedung ke gedung lain, dari satu tempat ke tempat lain dengan wajah yang begitu bercahaya. Padanya terdapat sepasang sayap yang indah tersusun dari batu-batu yakut dan permata. Yang membuat ia mampu beterbangan ke mana saja ia suka. Ketika turun para Ambiya, Awliya dan Ulama bertanya. Siapakah gerangan anda.. Apakah anda orang Sholih, atau syuhada atau ahli ibadah sehingga Allah berikan derajat yang begitu tinggi. Kemudian fulan ini menjawab. Wahai kekasih-kekasih Allah, aku bukanlah ahli Ibadah, bukan juga pejuang agama Allah. Yang ku lakukan waktu di dunia hanya satu. Sebagai amaliyahku yang membuat aku mendapat derajat demikian. Aku titipkan anakku belajar agama di pondok pesantren, di tempat para ahli ilmu yang dekat dengan Allah. Kemudian Allah Ridho dan Allah jadikan anak-anakku anak yang Sholeh dan  Allah berikan padaku derajat demikian tinggi sebab itu wahai para kekasih Allah.

Berikut kami kutipkan nasihat Pimpinan Pondok Modern Gontor, Kiyai Hasan Abdullah Sahal, khususnya bagi orang tua milenial yang anaknya baru mondok;

Pertama, Tega. Orang tua harus tega meninggalakan anaknya di pondok. Biasanya para ibu punya sindrom gak tegaan.

Yakinkan pada diri Bapak/Ibu bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.
Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun, apalagi MCK dan kantin

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman” …(QS. Ibrahim/14, 37)

Kedua, ikhlas. Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya.

Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga. Pondok bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Lagi pula, guru dan ustadz belum tentu dibayar dari uang kita.

Ketiga, Tawakkal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah.
Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya.

Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan. Minta juga anak untuk rajin berdoa karena doa penuntut ilmu mustajab.

Keempat, Ikhtiar. Poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustadznya, masa’ harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang dibayarkan bapak-ibu 100% kembali pada anak-anak.

Kelima, yang terakhir, Percaya. Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan.

Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi. Jangan sampai, ketika ibu-bapak berkunjung menjenguk anak, kebetulan melihat putra-putrinya sedang mengangkut sampah, kemudian wali santri mengatakan “ngak bener nih pondok, anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu”.

Ketahuilah bapak, ibu… putra-putrimu pergi ke pesantren untuk kembali sebagai anak berbakti. Dalam tiap malam air mata kadang tak mampu tertahan mengalir Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

Izinkan admin menutup tulisan ringkas ini dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا

Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang.
(Abu Dawud, Ibnu Hibban, Thabrani dan Baihaqi dengan sanad shahih)

 Sumber:www.assiddiqiyah2.com