PONDOK MODERN BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

EMPAT PILAR KEMAJUAN SEBUAH LEMBAGA

Empat Pilar Kemajuan dan Hakikat Mengajar
Sabtu, 25 Juli 2026

Empat Pilar Kemajuan dan Hakikat Mengajar:Sebuah Refleksi

"Jika ingin maju harus memiliki empat daya: daya tarik, daya tahan, daya suai, dan daya juang."

Setiap langkah menuju kemajuan senantiasa ditopang oleh empat hal utama: daya tarik, daya tahan, daya suai, dan daya juang.

Jiwa dan Makna Keberadaan Seorang Pendidik

Pembahasan diawali dengan pemaparan mengenai pentingnya menjaga ruh pengabdian sebagai fondasi utama. Ditekankan bahwa menjaga semangat dan kualitas batin berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan diri. Niat yang senantiasa diperbarui akan menjadikan setiap proses pembelajaran sebagai amal yang kebaikannya tidak terputus, meskipun di tengah padatnya rutinitas yang dijalani.

Saling mendoakan antar sesama pendidik menjadi cerminan jiwa yang baik. Peran pendidik tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga membina karakter yang menyertai peserta didik sepanjang waktu. Kekompakan antar sesama pengajar turut menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan, di mana keikhlasan meletakkan kepentingan bersama di atas ego pribadi menjadi awal terciptanya keharmonisan.

Kekuatan seorang pendidik lahir dari keseimbangan kondisi fisik dan kerohanian yang hidup. Banyaknya aktivitas belum tentu mencerminkan kualitas kerohanian, sementara doa yang tulus merupakan kekuatan yang sering tak tampak namun dampaknya sangat besar. Kualitas ibadah berkaitan erat dengan kualitas iman, dan setiap kemajuan bermula dari rasa cinta terhadap amanah yang diemban.

Ruh seorang guru lebih penting daripada gurunya; guru lebih penting daripada metode; metode lebih penting daripada materi.

Tujuan dan Langkah Pembangunan Lembaga

Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya telah ditetapkan dengan jelas sejak awal, untuk kemudian diwujudkan secara bertahap. Program jangka pendek diselaraskan guna mendukung visi jangka panjang lembaga. Hal-hal kecil yang dilaksanakan dengan benar merupakan bagian tak terpisahkan dari cita-cita besar yang ingin diraih bersama.

Kemajuan lembaga tidak diukur dari kelengkapan sarana, melainkan dari semangat para pendidik untuk terus belajar. Pemikiran yang matang melahirkan keputusan yang tepat. Semangat membangun tetap dijalankan meski fasilitas belum sepenuhnya lengkap, dengan arah menjadikan lembaga sebagai tempat lahirnya pendidik yang unggul dalam kemampuan maupun akhlak.

Pengembangan diri pendidik terus didorong, meliputi penyempurnaan niat, cara belajar, dan cara mengajar. Kehadiran hati yang tulus dalam proses pendidikan sangat dirasakan maknanya. Pendidik yang menjaga kualitas ibadah cenderung lebih mudah membimbing hati peserta didik, serta diharapkan mampu berpikir luas, berkarya nyata, dan menguasai setidaknya satu bidang keahlian secara mendalam.

Terdapat tiga gambaran pendidik yang diharapkan: memiliki kompetensi atau keahlian mumpuni, memiliki kualifikasi yang didukung berbagai kemampuan tambahan, serta memiliki komitmen dan kesetiaan terhadap amanah yang diemban.

Empat Pilar Penopang Kemajuan

Untuk mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan, terdapat empat pilar utama yang menjadi pegangan bersama:

  • Daya Tarik – Diupayakan lewat tata ruang dan lingkungan yang nyaman, peningkatan kualitas keilmuan pendidik, serta pembudayaan ibadah dan akhlak mulia.
  • Daya Tahan – Dibangun melalui pembentukan karakter yang kokoh dan tidak mudah goyah menghadapi tantangan.
  • Daya Suai – Setiap program disesuaikan dengan jati diri lembaga yang mengedepankan kemajuan dan pemikiran terbuka.
  • Daya Juang – Diisi dengan meneladani sifat Rasulullah ﷺ: jujur, dapat dipercaya, menyampaikan amanah dengan benar, serta cerdas dalam bertindak.

Arah Pengembangan dan Harapan

Berbagai upaya diarahkan untuk meningkatkan keseriusan kerja, kualitas pendidik, serta daya tarik lembaga. Program persiapan pendidikan tinggi, pusat pengembangan bakat peserta didik, dan penguatan jaringan alumni akan terus dikembangkan. Penataan sistem penugasan juga disesuaikan dengan tingkat tanggung jawab dan kemampuan masing-masing.

Hakikat mengajar adalah terus belajar. Barang siapa menuntut dan mengamalkan ilmu semata-mata karena Allah, ia akan mendapatkan kemuliaan. Sebaliknya, apabila ilmu diamalkan bukan karena-Nya, maka ia akan hidup dalam kegelisahan.

Anatomi Ponpes Jalan di Tempat | Telaah Kritis

ANATOMI PONPES JALAN DI TEMPAT

Telaah Kritis 9 Faktor Penghambat Kemajuan

Ikhwan Hadiyyin 4 Juni 2026 Darel Azhar

MUQADDIMAH

Lembaga pendidikan dan pesantren yang maju tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan, luasnya lahan, atau banyaknya santri dan siswa. Kemajuan sejati lahir dari kualitas kepemimpinan, sumber daya manusia, sistem yang baik, budaya organisasi yang sehat, serta dukungan orang tua, masyarakat, alumni dan wakaf produktif.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

— QS. Ar-Ra'd: 11

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan dan kemajuan harus diawali dengan kesadaran untuk memperbaiki diri, memperbaiki sistem, dan memperbaiki budaya kerja. Berikut sembilan faktor yang sering menjadi penyebab lembaga pendidikan dan pesantren kurang berkembang atau jalan di tempat.

9 Faktor Penghambat Kemajuan

1

Kepemimpinan yang Tidak Visioner

Pimpinan lembaga yang tidak memiliki visi, cita-cita besar, dan arah yang jelas akan membuat lembaga berjalan di tempat. Pemimpin yang hanya mempertahankan keadaan yang dianggap "aman dan nyaman" tanpa inovasi akan sulit membawa lembaganya menuju kemajuan.

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

— HR. Bukhari dan Muslim

Karena itu, pemimpin pesantren dan lembaga pendidikan harus memiliki pandangan jauh ke depan, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan menggerakkan seluruh potensi lembaga. Pemimpin suatu kaum adalah yang mengelola kehidupan bangsa itu secara totalitas.

2

Guru dan Asatidz yang Berhenti Belajar

Guru dan Asatidz adalah ruh pendidikan. Ketika mereka merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki, enggan meningkatkan kompetensi, dan tidak mengikuti perkembangan zaman, maka kualitas pendidikan akan stagnan. Padahal saat ini perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), justru memudahkan proses belajar dan pengembangan diri.

"Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"

— QS. Az-Zumar: 9

Guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang terus berkembang. Maka dari itu para guru harus dipacu untuk terus belajar. Guru yang tidak mau belajar - maka berhentilah mengajar.

3

Budaya Kerja yang Tidak Sehat

Saling menyalahkan, iri hati, konflik internal, serta lemahnya kerja sama akan menguras dan menggerus energi lembaga. Sebaliknya, budaya ukhuwah Islamiyah, kolaborasi, dan saling menghargai akan melahirkan kekuatan besar untuk kemajuan bersama.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa."

— QS. Al-Maidah: 2

Seluruh stakeholder pendidikan harus kompak, bersatu padu, dan mengedepankan kepentingan lembaga di atas kepentingan pribadi maupun kelompok dan keluarga.

4

Kurangnya Keterlibatan Wali Santri dan Masyarakat

Pesantren dan lembaga pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Dukungan orang tua, wali santri, alumni, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan dan keberlanjutan lembaga. Wali santri hendaknya aktif mendukung proses pendidikan dan pembinaan karakter anak-anak mereka, namun tidak sampai melakukan intervensi yang mengganggu sistem pendidikan yang telah dirancang oleh lembaga.

Pendidikan yang berhasil adalah hasil sinergi antara rumah, sekolah, pesantren, dan masyarakat.

5

Terlalu Fokus pada Aspek Akademik

Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai ujian dan angka kelulusan. Pendidikan karakter, akhlak, kepemimpinan, kemandirian, disiplin, dan keterampilan hidup juga harus menjadi perhatian utama. Tujuan pendidikan Islam bukan hanya mencetak manusia cerdas, tetapi juga mencetak manusia yang beriman, berakhlak mulia, bertakwa dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

— HR. Ahmad

6

Tidak Adaptif terhadap Perubahan

Dunia terus berubah. Teknologi berkembang pesat, tantangan pendidikan semakin kompleks, dan kebutuhan masyarakat terus bergeser. Lembaga yang menolak perubahan akan tertinggal dari lembaga lain yang lebih inovatif.

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

"Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik."

Inilah prinsip yang harus dipegang dalam pengembangan lembaga pendidikan dan pesantren. Bahkan pesantren Gontor mengaplikasikan: "Almuhafadhoh alal qiam wat taghyir ilal kamal" (Menjaga nilai-nilai yang positif menuju perubahan yang sempurna).

7

Kurangnya SWOT Analisis, Evaluasi dan Muhasabah

Lembaga yang tidak pernah melakukan evaluasi akan sulit mengetahui kelemahan dan kekurangannya. Muhasabah, evaluasi berkala, dan keterbukaan terhadap kritik merupakan kunci perbaikan berkelanjutan. Evaluasi internal mingguan, rapat koordinasi, dan liqo syahriy bersama keluarga sangat penting untuk terus dilakukan agar seluruh program dapat berjalan sesuai tujuan.

Sayyidina Umar bin Khattab RA berpesan:
"Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab."

Budaya evaluasi merupakan salah satu ciri organisasi yang sehat.

8

Alumni yang Kurang Berkualitas & Kurang Peduli

Alumni adalah cermin keberhasilan sebuah lembaga. Jika alumninya berkualitas, berakhlak mulia, sukses di masyarakat, dan memiliki loyalitas kepada almamater, maka nama baik lembaga akan semakin harum. Sebaliknya, alumni yang kurang berkualitas serta tidak memiliki kepedulian terhadap almamater akan menghambat perkembangan lembaga dalam jangka panjang.

Karena itu, proses kaderisasi harus menjadi perhatian utama. Sebab sejatinya kualitas sebuah lembaga akan terlihat dari kualitas para alumninya.

9

Khizanatullah & Wakaf Produktif yang Belum Berkembang

Banyak lembaga pendidikan dan pesantren memiliki visi besar, namun terhambat oleh keterbatasan pendanaan. Padahal Rasulullah SAW telah mengajarkan pentingnya amal jariyah yang berkelanjutan.

"Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."

— HR. Muslim

Oleh karena itu, lembaga perlu membangun kemandirian ekonomi melalui wakaf produktif, unit-unit usaha, kemitraan strategis, jaringan alumni, dan partisipasi masyarakat agar tidak bergantung pada satu sumber pendanaan saja. Pesantren yang kuat secara ekonomi akan lebih leluasa menjalankan misi pendidikan dan dakwahnya.

IHTITAM

Kemajuan lembaga pendidikan dan pesantren sesungguhnya merupakan hasil sinergi antara pemimpin yang visioner, guru yang terus belajar, santri yang berprestasi, alumni yang berkualitas, sistem yang kuat, serta dukungan masyarakat yang luas. Kemajuan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang, kesabaran, pengorbanan, kaderisasi, dan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai perjuangan.

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ

"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin."

— QS. At-Taubah: 105

Bangunan yang megah dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi lembaga pendidikan dan pesantren yang besar hanya dapat dibangun oleh visi yang besar, kader yang berkualitas, budaya yang kuat, sistem yang sehat, serta perjuangan yang panjang dan berkesinambungan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Ikhwan Hadiyyin

Bilik - Darel Azhar

4 Juni 2026

© 2026 - Anatomi Ponpes Jalan di Tempat

Telaah Kritis untuk Kemajuan Pendidikan Islam

Editor;Al-Ust. Imam Syubani, MPd.

DILEMA DI BALIK PEMULANGAN 17 SANTRI

Pondok Modern Daarul Abror

Tinta Merah, Mengiringi Langkah 17 Santri Yang Dirumahkan

BANGKA – Belakangan ini, lingkungan pendidikan Pondok Modern Daarul Abror (PMDA) menjadi sorotan menyusul permasalahan yang melibatkan jajaran pengurus Organisasi Pondok Modern Daarul Abror (OPPMDA)priode 2026-2027.

Peristiwa ini memicu perhatian luas, hingga mencapai perhatian di tingkat pusat, karena menyangkut esensi pendidikan, kedisiplinan, dan tanggung jawab amanah di lingkungan pesantren. Berbagai pihak sepakat meminta kejelasan dan sikap tegas agar aturan dan nilai pendidikan tetap terjaga.

Melalui proses panjang pendekatan, komunikasi intensif dengan seluruh elemen, serta pertimbangan mendalam terhadap kondisi lingkungan yang masih memerlukan pemulihan pasca gejolak yang sempat menjadi pembicaraan publik, pimpinan pondok akhirnya mengambil keputusan strategis dan bijak.

📌 KEPUTUSAN PENTING:
Demi kebaikan bersama, pemulihan suasana, dan proses perbaikan diri yang lebih tenang, disepakati bahwa para santri yang terlibat dalam peristiwa tersebut dikembalikan ke dalam pengasuhan orang tua masing-masing.

Langkah ini bukan sekadar keputusan administratif, melainkan bagian dari pendidikan dan tanggung jawab bersama agar semua paham bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan perbaikan karakter adalah tugas utama kita semua.

AKAR MASALAH: ANTARA HUBUNGAN, SIKAP, DAN PEMAHAMAN

Setiap peristiwa lahir dari rangkaian sebab-akibat yang saling berkaitan, dan tidak ada satu pihak pun yang bisa disalahkan sepenuhnya.

Meninjau kembali asal mula kejadian, situasi berlangsung di tengah kesibukan luar biasa yang menyita perhatian seluruh elemen pendidik. Saat itu, para guru dan asatidz sedang disibukkan dengan rangkaian kegiatan penting: proses pelepasan kader terbaik menuju perguruan tinggi, hingga membimbing santri kelas enam dalam agenda besar Market Day — sarana melatih jiwa kewirausahaan dan kemandirian.

Di tengah padatnya agenda tersebut, perhatian dan pendampingan langsung di lingkungan keseharian santri mengalami sedikit kelonggaran. Di sinilah ketegangan bermula: terindikasi adanya ketimpangan sikap. Di satu sisi ada perilaku yang meremehkan aturan dan kewibawaan, sementara di sisi lain muncul reaksi berlebihan yang melampaui koridor pendidikan.

Dinamika ini makin jelas jika melihat konteks pergantian kepengurusan. Pengurus lama yang habis masa tugasnya sedang mempersiapkan diri untuk kelulusan, jabatan diteruskan ke generasi baru kelas 5 yang masih muda, baru dilantik seumuran toge, dan sedang dalam tahap belajar.

"Kita harus jujur mengakui adanya kesenjangan antara amanah yang diterima dengan kesiapan bertindak. Mereka yang baru memegang tanggung jawab, belum sepenuhnya paham batas kewenangan dan makna kekuasaan sebagai pelayanan. Ketidaktahuan dan ketidaksempurnaan pemahaman inilah yang menjadi akar terjadinya tindakan melampaui aturan."
— Salah satu tenaga pendidik

Jelaslah bahwa masalah ini bukan soal niat buruk, melainkan soal kesiapan, kedewasaan, dan pemahaman yang belum utuh saat memegang amanah besar.

PENYESUAIAN SISTEM KEPENGURUSAN

Sebagai evaluasi menyeluruh dan langkah pencegahan, pimpinan menetapkan kebijakan besar dalam menata ulang struktur organisasi OPPMDA.

KEBIJAKAN PEMBENAHAN:
Seluruh wewenang, tugas, dan tanggung jawab pembinaan serta pengawasan santri selama 24 jam dikembalikan sepenuhnya kepada sistem pengasuhan utama yang dikelola langsung oleh para guru dan asatidz.

OPPMMDA sejatinya dibentuk sebagai wadah pendidikan karakter dan kepemimpinan, perpanjangan tangan pengasuh untuk melatih tanggung jawab. Namun pengalaman mengajarkan: menyerahkan kendali penuh kepada mereka yang masih belajar tanpa pendampingan ketat memiliki risiko. Organisasi disalahartikan sebagai kekuasaan mutlak, padahal ia sarana latihan.

"Organisasi itu ibarat senjata. Jika dipegang orang yang paham fungsinya, ia melindungi dan mendidik. Tapi jika dipegang mereka yang belum matang pemahamannya, ia justru bisa melukai. Inilah yang terjadi: sarana pendidikan disalahartikan karena belum paham batas dan tujuannya."

Langkah ini bukan menghapus peran santri, melainkan memperketat bimbingan dan mengembalikan fungsi ke jalur pendidikan yang benar.

REFLEKSI DAN PESAN BERHARGA

Peristiwa ini bukan sekadar masalah selesai, tapi cermin dan pelajaran besar. Kita diajak memahami akar dan konteks, bukan hanya melihat permukaan. Khususnya bagi santri kelas 4, diharapkan saat giliran mereka memegang amanah, sudah lebih matang dan paham makna tanggung jawab.

Pondok Modern Daarul Abror tetap berdiri tegak mencetak generasi berilmu dan berakhlak. Dari peristiwa ini, terukir tiga pelajaran emas:

  • Amanah adalah kepercayaan, bukan kekuasaan.
  • Kedisiplinan harus dibarengi kebijaksanaan dan kasih sayang.
  • Setiap tahap belajar memerlukan bimbingan dan pendampingan ekstra.

Pembenahan ini dilakukan demi masa depan yang lebih baik, agar setiap santri tumbuh dalam suasana aman, dihargai, dan dididik dengan nilai-nilai luhur pesantren.

Tiga Pilar Pendidikan di Pondok Modern Daarul Abror Bangka

 

Dalam upaya mencetak generasi muslim yang sempurna, berilmu, dan berakhlak mulia, Pondok Modern Daarul Abror Bangka menerapkan sebuah konsep pendidikan yang terintegrasi. Tiga sistem ini menjadi fondasi kokoh yang saling mengisi dan melengkapi, yaitu: Sistem Nilai, Sistem Sekolah, dan Sistem Asrama.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai ketiga pilar tersebut:


SISTEM NILAI (Value System)

Fondasi Spiritual & Karakter

Pengertian:

Sistem Nilai adalah landasan filosofis, ideologis, dan akidah yang menjadi jiwa dari seluruh kegiatan pendidikan. Sistem ini menentukan "mengapa" kita belajar dan "untuk apa" ilmu itu digunakan. Di Pondok Modern Daarul Abror, sistem nilai ini berlandaskan pada ajaran Islam yang lurus, membumi, dan sesuai dengan Al-Qur'an serta As-Sunnah.

 

Peran dan Fungsi:

- Sebagai Kompas: Menjadi arah tujuan agar seluruh program tidak melenceng dari prinsip keislaman.

- Pembentuk Karakter: Menanamkan moral, etika, sopan santun, dan akhlak karimah.

- Penyelarasan Ideologi: Menyelaraskan cara pandang santri agar memiliki pemahaman keagamaan yang sama dan kuat.

- Internalisasi Iman: Membuat santri tidak hanya "tahu" tentang agama, tapi juga "merasakan" dan "mengamalkan" nilai-nilai kebaikan dalam hidup sehari-hari.

Dalam Lembaga Pendidikan Islam:

Sistem nilai ini yang membedakan lembaga kita dengan lembaga pendidikan sekuler. Di sini, ilmu tidak dilepaskan dari moral, dan prestasi tidak dilepaskan dari ketakwaan.

 

SISTEM SEKOLAH (Academic System)

Pengembangan Intelektual & Keilmuan

Pengertian:

Sistem Sekolah adalah pola pengelolaan pendidikan formal yang berorientasi pada penguasaan materi akademis, kurikulum, dan metode pengajaran yang terstruktur. Sistem ini mencakup kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, penilaian, dan standar kompetensi.

Peran dan Fungsi:

- Transfer Ilmu: Proses penyampaian pengetahuan baik ilmu agama (Fiqih, Tauhid, Bahasa Arab, dll) maupun ilmu umum (Matematika, IPA, IPS, dll).

- Metodologi Terencana: Menggunakan cara-cara yang efektif, modern, dan sistematis agar ilmu mudah diterima.

- Pengasahan Otak: Melatih cara berpikir kritis, analitis, dan logis.

- Standar Kompetensi: Memastikan santri memiliki kualifikasi keilmuan yang terukur dan siap bersaing.

Dalam Lembaga Pendidikan Islam:

Sistem ini membuktikan bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Pondok Modern tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga membekali santri dengan wawasan luas agar mampu menjawab tantangan zaman.

SISTEM ASRAMA (Boarding System)

Pembentukan Kepribadian & Kemandirian

Pengertian:

Sistem Asrama adalah pola pendidikan yang diterapkan melalui kehidupan bermukim bersama dalam satu lingkungan hunian. Ini adalah pendidikan non-formal yang berlangsung 24 jam, di mana santri belajar hidup mandiri, disiplin, dan bersosialisasi jauh dari keluarga.

Peran dan Fungsi:

- Pembiasaan (Ta'lim): Membiasakan ibadah, bangun pagi, tidur teratur, dan menjaga kebersihan.

- Sekolah Kehidupan: Belajar berbagi, menghargai orang lain, mengatur keuangan, dan mengurus diri sendiri.

- Penguatan Ukhuwah: Membangun persaudaraan yang kuat tanpa memandang latar belakang suku atau golongan.

- Pengawasan Maksimal: Lingkungan yang terkendali membuat pembinaan karakter lebih mudah dilakukan dan terpantau.

Dalam Lembaga Pendidikan Islam:

Sistem asrama adalah laboratorium nyata. Di sinilah Sistem Nilai dan Sistem Sekolah diuji dan dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Seorang santri dituntut untuk konsisten antara apa yang dipelajari di kelas dengan apa yang dilakukan di kamar asrama.

HUBUNGAN KETIGA SISTEM 

Ketiga sistem ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membentuk sebuah kesatuan yang utuh (integrated system):

1. Sistem Nilai memberikan ARAH & JIWA.

2. Sistem Sekolah memberikan ILMU & CARA.

3. Sistem Asrama memberikan LATIHAN & PEMBIASAAN.

Jika hanya ada Sistem Sekolah tanpa Sistem Nilai, maka akan lahir orang pandai tapi tidak bermoral.

Jika hanya ada Sistem Nilai tanpa Sistem Sekolah, maka imannya kuat tapi ilmunya kurang untuk bersaing.

Jika tidak ada Sistem Asrama, maka pembentukan karakter akan sulit maksimal karena tidak ada kontrol lingkungan.

Oleh karena itu, di Pondok Modern Daarul Abror Bangka, ketiga pilar ini dijalankan secara bersinergi untuk melahirkan lulusan yang Shaleh secara spiritual, Cerdas secara intelektual, dan Tangguh secara personal.

Buat Orang Tua Yang Memondokkan Anaknya

Saya buka tulisan ini dengan kabar gembira dari Allah Ta'ala, QS. Ar-Ro'd ayat 24.

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ

Dan keselamatanlah untuk Kalian sekeluarga (Surga Adn) atas kesabaran kalian waktu di dunia.

Iniliah ayat yang cocok sebagai apresiasi dan juga penyemangat bagi orang tua manapun yang memperjuangkan anaknya masuk ke pondok. Sebab salah satu modalnya adalah sabar. Sabar, sabar ketika semua harta habis berpuluh juta bahkan beratus juta untuk membiayai kehidupan dan pendidikan anak di pesantren, yang padahal dengan harta itu orang tua tersebut dapat membeli apa saja, dan investasi apa saja perihal dunia. Namun orang-orang tua yang Memondokkan anaknya memilih sabar menanam harta itu dalam pendidikan anak-anaknya demi buah dan bunga terbaik di hari yang kemudian juga secangkir kebahagian yang kelak diberikan anaknya di hadapan Allah Ta'ala kelak. 

Sabar, sabar juga ketika terus berlelah-lelah mengantar bolak-balik anaknya masuk ke luar pesantren, belum rasanya badan merebah, tiba-tiba anaknya menelepon sebab sakit, yang mau tidak mau harus segera ditengok walau badan bermandikan lelah dan keringat. Apalagi yang anaknya pernah merasa tidak kerasan dan tidak betah di pesantren. Ada masa, sabar Betul-betul diuji antara menyerah dan terus berjuang sebab jenuh hampir tiap hari mengantar putranya bolak balik pesantren dengan segala macam bujukan. 

Sabar, sabar juga tatkala ramainya rumah kini berganti sepi, sebab para penenang jiwa, penghibur lara jauh dalam dekapansedang berjuang di pesantren, Syukur yang masih ada adik atau kakaknya. Sabar akan betul kembali diuji saat anak tiga, tiga-tiganya berjuang di pesantren apa lagi anak semata wayang, kemudian rela dan sabar dilepas untuk berjuang di pondok pesantren satu-satunya anak tersebut. Dalam tiap malam air mata kadang tak mampu tertahan mengalir, merindukan putra-putri kesayangannya yang tak mampu dipeluk dan dikecup kepalanya. Syukur bagi orang tua yang pesantren putra-putrinya dekat, sepelemparan batu. Ketika rindu datang paling tidak akhir pekan pertemuan sebentar sudah begitu menenangkan jiwa. Lantas dengan orang tua yang memondokkan anaknya di luar kota, luar pulau bahkan luar negeri. Rindu begitu menyayat-nyayat hati di tiap keadaan seraya hanya pelukan Do'a yang dapat terucap lirih dalam lisan agar putra-putrinya yang jauh senantiasa dalam lindungan Allah Ta'ala.

Belum sabar-sabar yang lain, sabar dengan lamanya pendidikan, omongan orang yang begitu ragu jika anaknya dititip di pesantren, kadang harus kuat dan sabar dihadapi. Belum lagi kondisi kesehatan baik anaknya lebih-lebih kesehatannya sendiri sebab usia sudah tak bisa di bilang muda, rasanya betul-betul hanya anak yang mampu menjadi obat dan harapan tiada tara sebagai penguat keteguhan orang tua.

Wahai para orang tua yang begitu ikhlas berjuang, Engkau sudah Betul-betul mengamalkan perintah Allah Ta'ala dalam surah An-Nisa ayat 9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

 Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Memondokkan anak, adalah ikhtiar kita membangun generasi yang kuat, agar peringatan Allah itu tidak terjadi pada keturunan kita. Saat kita pergi meninggalkan dunia, Na'udzubillah kita meninggalkan generasi yang lemah, lemah iman, lemah akhlak, lemah ilmu, lemah ekonomi dan lemah lainnya. Generasi-generasi yang tak mampu menjadi Pembela buat orang tuanya, agamanya, bangsanya. Pembela di dunia lebih-lebih di akhiratnya Allah. Generasi yang lemah hanya akan menyiksa batin orang tuanya di dunia, membuat merintih orang tuanya ketika ajal datang, sebab bukan lantunan Do'a yang dihaturkan justru pertikaian atas nama perebutan harta orang tuanya yang padahal jenazahnya masih ada di hadapan anak-anak itu. Apa lagi di akhiratnya Allah, jangan membawa ke surga. Anak-anak itu akan menuntut dan menyeret orang tuanya ke nerakanya Gusti Allah. 

Namun sebaliknya, berkat kegihihan Bapak Ibu Memondokkan anak, sebagai ikhtiar menguatkan generasi maka tangis demi tangis bahagia akan mewarnai kehidupan Bapak Ibunya. Ada haru bahagia saat mereka lulus dan wisuda di pesantren yang begitu membuat hati besar dan lega. Bahagia sebab pendidikan pesantren membuat mereka menjadikan Bapak Ibunya raja dan ratu bagi mereka. Hati orang tua mana yang tak meleleh saat anaknya bersimpuh di pangkuannya seraya berdo'a di tiap waktunya demi kesehatan dan panjang umur orang tuanya. Begitupun saat kita berpulang. Masing-masing dari anak-anak yang Sholeh tersebut berjajar bersahut membaca Al-

Qur'an. Tiada Ustad yang datang memandikan dan memimpin sholat jenazah kita. Sebab mereka anak-anak yang Sholeh hadir di sana memandikan jenazah kita, memimpin sholat jenazah kita dan turun mengazani kita untuk terakhir kali. Dapat dipastikan Wahai Para Bapak dan Ibu yang Memondokkan anaknya di pesantren. Itulah hari terbaik dan paling membahagiakan untuk kita sebagai orang tua. Sebab anak-anak kita hadir jadi pembela kita. Apa lagi kelak di hadapan Allah Ta'ala. Merekalah yang akan membela kita, memperjuangkan kita di hadapan Allah Ta'ala sehingga termasuk lah kita orang-orang yang

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

(yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. 

Allah, Mudah-mudahan Allah jadikan putra-putri kita sebagai penyejuk mata hati kita di dunia lebih-lebih Akheratnya Allah Ta'ala. Saya tutup tulisan ini dengan sebuah kisah. Pernah mendengar cerita dari seorang Kyai. Bahwa di surga ada sebuah majlis para Ambiya, Awliya dan Ulama serta Sholihin. Tiba-tiba obrolan santai di majlis tersebut dikagetkan dengan seorang penghuni surga yang tampak beterbangan dari satu gedung ke gedung lain, dari satu tempat ke tempat lain dengan wajah yang begitu bercahaya. Padanya terdapat sepasang sayap yang indah tersusun dari batu-batu yakut dan permata. Yang membuat ia mampu beterbangan ke mana saja ia suka. Ketika turun para Ambiya, Awliya dan Ulama bertanya. Siapakah gerangan anda.. Apakah anda orang Sholih, atau syuhada atau ahli ibadah sehingga Allah berikan derajat yang begitu tinggi. Kemudian fulan ini menjawab. Wahai kekasih-kekasih Allah, aku bukanlah ahli Ibadah, bukan juga pejuang agama Allah. Yang ku lakukan waktu di dunia hanya satu. Sebagai amaliyahku yang membuat aku mendapat derajat demikian. Aku titipkan anakku belajar agama di pondok pesantren, di tempat para ahli ilmu yang dekat dengan Allah. Kemudian Allah Ridho dan Allah jadikan anak-anakku anak yang Sholeh dan  Allah berikan padaku derajat demikian tinggi sebab itu wahai para kekasih Allah.

Berikut kami kutipkan nasihat Pimpinan Pondok Modern Gontor, Kiyai Hasan Abdullah Sahal, khususnya bagi orang tua milenial yang anaknya baru mondok;

Pertama, Tega. Orang tua harus tega meninggalakan anaknya di pondok. Biasanya para ibu punya sindrom gak tegaan.

Yakinkan pada diri Bapak/Ibu bahwa di pesantren putra-putri ibu dididik bukan dibuang, diedukasi bukan dipenjara. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.
Yakinlah keadaan anak bapak jauh lebih baik dibanding keadaan saat Nabi Ibrahim alaihissalam meninggalkan putranya di gurun yang tandus tidak ada pohon sekalipun, apalagi MCK dan kantin

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman” …(QS. Ibrahim/14, 37)

Kedua, ikhlas. Sebagaimana kita sadar, bahwa anak kita dididik, dan diajar, kita juga harus ikhlas purta-putri kita menjalani proses pendidikan itu; dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dibatasi waktu tidurnya, dan sebagainya.

Kalau merasa anak Anda dibuat tidak senyaman hidup dirumah, silakan ambil anak itu serkarang juga. Pondok bukan funduk (hotel), pesantren tidak menyediakan pesanan. Lagi pula, guru dan ustadz belum tentu dibayar dari uang kita.

Ketiga, Tawakkal. Setelah menetapkan hati untuk tega dan ikhlas, serahkan semua pada Allah.
Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang dapat mengubah begitu saja santri-santrinya.

Kita hanya berusaha, Allah azza wa jalla mengabulkan doa. Doa orang tua pada anaknya pasti dikabulkan. Minta juga anak untuk rajin berdoa karena doa penuntut ilmu mustajab.

Keempat, Ikhtiar. Poin ini yang utama adalah dana. Tidak semua pondok merupakan lembaga amal. Banyak pondok yang tidak menggaji ustadznya, masa’ harus dibebani dengan membiayai santrinya juga. Imam Syafi’i sendiri berpesan mengenai syarat menuntut ilmu adalah dirham (baca: uang/rupiah). Insyallah, semua yang dibayarkan bapak-ibu 100% kembali pada anak-anak.

Kelima, yang terakhir, Percaya. Percayalah bahwa anak bapak-ibu dibina, betul-betul dibina. Semua yang mereka dapatkan di pondok adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan.

Jadi, jangan salah paham, jangan salah sikap, jangan salah persepsi. Jangan sampai, ketika ibu-bapak berkunjung menjenguk anak, kebetulan melihat putra-putrinya sedang mengangkut sampah, kemudian wali santri mengatakan “ngak bener nih pondok, anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu”.

Ketahuilah bapak, ibu… putra-putrimu pergi ke pesantren untuk kembali sebagai anak berbakti. Dalam tiap malam air mata kadang tak mampu tertahan mengalir Jangan beratkan langkah mereka dengan kesedihanmu. Ikhlaskan, semoga Allah rahmati jalan mereka.

Izinkan admin menutup tulisan ringkas ini dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا

Bertemulah jarang-jarang agar cinta makin berkembang.
(Abu Dawud, Ibnu Hibban, Thabrani dan Baihaqi dengan sanad shahih)

 Sumber:www.assiddiqiyah2.com