Dalam perjalanan waktu, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada sebagian masyarakat yang memiliki persepsi kurang baik terhadap lembaga pesantren. Seringkali pesantren dilabeli sebagai tempat yang identik dengan pembulian (bullying) dan kekerasan fisik. Pandangan ini tentu sangat menyederhanakan realita yang ada dan kurang melihat gambaran besar dari fungsi pesantren itu sendiri.
Padahal, pesantren pada dasarnya adalah cerminan dari pendidikan karakter yang dibangun sejak di lingkungan keluarga hingga masyarakat luas. Lembaga ini didirikan dengan tujuan utama mencetak generasi yang berakhlak mulia, bukan justru sebaliknya.
Pesantren Benteng dari Kenakalan Remaja
Jika kita melihat fenomena yang terjadi di masyarakat umum saat ini, tantangan yang dihadapi anak-anak jauh lebih besar. Maraknya pengaruh media sosial, gaya hidup bebas, hingga tindakan kriminal seperti geng motor, penyalahgunaan miras, dan narkoba adalah ancaman nyata.
Masalah utama seringkali terletak pada manajemen waktu. Pada sistem pendidikan umum, anak-anak bersekolah hanya dari pagi hingga siang atau sore hari. Sisanya, mereka memiliki waktu luang yang sangat panjang. Tanpa pengawasan orang tua yang seringkali terbatas karena kesibukan bekerja, waktu luang inilah yang justru menjadi "pintu gerbang" bagi timbulnya permasalahan sosial yang serius tersebut.
Di sinilah letak keunggulan sistem pesantren. Dengan pola asuh 24 jam (full day/boarding school), waktu santri diisi dengan kegiatan yang positif, ibadah, dan belajar. Secara tidak langsung, pesantren justru menjadi lembaga yang memberi ruang sesedikit mungkin bagi pelanggaran norma dan kenakalan remaja yang marak terjadi di luar sana.
Disiplin Bukan Kekerasan, Melainkan Aturan
Namun, kita juga harus bijak dan objektif. Mengakui bahwa pesantren itu sempurna tanpa masalah adalah hal yang tidak realistis. Tentu ada problema yang muncul, salah satunya adalah persoalan penegakan disiplin yang sering dilakukan oleh senior atau kakak kelas (sering disamakan dengan fungsi OSIS atau pengurus asrama).
Ada anggapan bahwa tindakan mereka seringkali terlihat keras atau menakutkan. Namun, jika kita tarik benang merahnya dengan kehidupan nyata di masyarakat, hal ini sebenarnya memiliki paralel yang menarik.
Di masyarakat luas, kita sering melihat oknum penegak hukum—seperti kepolisian—yang dalam menjalankan tugasnya terkadang dianggap bertindak di luar batas atau terlalu keras. Hal ini biasanya terjadi ketika menghadapi pelaku kriminal atau bahkan bawahannya yang tidak mau tunduk pada aturan, berani mengejek, atau melawan perintah.
Sama halnya di pesantren, penegak disiplin (kakak kelas) seringkali harus bersikap tegas karena menghadapi adik kelas yang bandel, melanggar aturan, atau tidak menghormati tata tertib yang berlaku. Tindakan tegas ini seringkali disalahartikan sebagai "kekerasan" atau "pembulian", padahal intinya adalah upaya penegakan aturan demi ketertiban bersama, meski memang metode penyampaiannya perlu terus diperbaiki agar lebih humanis.
Masyarakat perlu membedakan antara kasus individual dengan sistem pendidikan. Tindakan kekerasan yang mungkin pernah terjadi di satu titik tidak bisa dijadikan patokan bahwa seluruh pesantren adalah tempat yang buruk.
Sebaliknya, kita harus melihat bahwa pesantren hadir sebagai solusi untuk menjaga anak-anak dari arus negatif pergaulan bebas yang jauh lebih berbahaya. Problematika disiplin yang ada hanyalah bagian kecil dari proses mendidik karakter, yang prinsipnya sebenarnya sama dengan bagaimana aturan berlaku di masyarakat luas: ada aturan, ada penegak, dan ada konsekuensi bagi yang melanggar.
Di era digital saat ini, informasi dapat menyebar begitu cepat hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan akses tersebut, tersimpan sebuah realita yang seringkali membelokkan pandangan masyarakat, yaitu budaya pemberitaan yang mengutamakan sensasi di atas kebenaran faktual.
Tidak dapat dipungkiri, media sosial dan portal berita masa kini seringkali terbiasa menyajikan berita dengan gaya yang dibesar-besarkan (sensationalism). Judul yang dibuat sedramatis mungkin, foto yang dipilih adalah momen terburuk, dan narasi yang disusun seolah-olah itulah gambaran utuh dari sebuah lembaga. Padahal, seringkali yang ditampilkan hanyalah sepotong kejadian buruk yang diambil dari konteksnya, lalu digemakan seolah-olah itulah kebiasaan sehari-hari.
Logika sederhananya begini: Berita tentang "sekolah yang aman dan nyaman" jarang sekali yang menjadi viral atau dibaca ribuan orang. Namun, satu berita tentang "insiden kekerasan" meski itu kejadian langka, akan langsung menyebar luas, dibahas di mana-mana, dan menjadi tontonan yang menarik perhatian publik.
Inilah yang kemudian membentuk persepsi keliru di benak masyarakat. Ketika mereka terus-menerus disuguhi tontonan buruk tentang pesantren yang diedit sedemikian rupa demi klik dan views, secara tidak sadar mereka terprovokasi untuk beranggapan bahwa di sana penuh dengan kekerasan. Padahal, mungkin di ribuan pesantren lain, kegiatan belajar mengajar berjalan dengan sangat damai, penuh kasih sayang, dan tertib.
Realita vs. Sensasi
Kita perlu bijak memahami bahwa media memiliki kepentingan tersendiri untuk tetap eksis. Agar kontennya menarik dan "viral", konflik dan hal negatif adalah komoditas yang paling laku. Akibatnya, masalah kecil bisa terlihat menjadi sangat besar, dan kesalahan individu bisa dianggap sebagai kesalahan sistem.
Hal inilah yang seringkali tidak dilihat oleh masyarakat awam. Mereka menelan mentah-mentah apa yang tertulis di layar kaca, tanpa menyadari bahwa di balik tulisan tersebut ada kepentingan untuk mencari perhatian. Akhirnya, pesantren yang seharusnya dijaga kehormatannya sebagai tempat pendidikan, justru dicoreng-coret namanya hanya karena sebuah berita yang kebenarannya perlu dipertanyakan kembali proporsinya.
Menjadi Penonton yang Cerdas
Oleh karena itu, sudah saatnya kita sebagai masyarakat belajar menjadi konsumen informasi yang cerdas. Jangan mudah terhasut oleh judul yang provokatif atau gambar yang mengerikan. Sadarilah bahwa apa yang ditampilkan di media sosial seringkali bukanlah gambaran utuh, melainkan hanya "potongan drama" yang dibuat agar terlihat menarik.
Pesantren adalah lembaga pendidikan yang didirikan untuk kebaikan. Memang tidak luput dari kesalahan atau kekurangan, namun sangat tidak adil jika dinilai hanya dari kacamata berita-berita sensasional yang lebih mementingkan popularitas daripada keadilan informasi.
Kesimpulan
Mari kita mulai melihat dengan mata hati dan logika, bukan hanya melalui apa yang ingin ditampilkan oleh algoritma media sosial.
Mari kita ubah persepsi, bahwa pesantren adalah tempat mencetak generasi tangguh, bukan tempat yang menakutkan.
Nb. Artikel ini tidak mewakili fihak pesantren, namun hanya opini dari pribadi penulis yang merupakan walisantri.
